oleh Dwi Purnomo dan Rendy Arifin Mengawali bulan Mei 2018, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya Tangerang mengadakan kegiatan one day reading Dhammapada atau sehari membaca Dhammapada. Kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa semester 6 ini dilakukan di lobi kampus STABN Sriwijaya Tangerang dan diikuti oleh 25 mahasiswa. Kegiatan One day reading Dhammapada
Kebahagiaan Merupakan Tujuan Semua Makhluk Idha modati pecca modati katapuñño ubhayattha modati So modati so pamodati disvā kammavisuddhimattano “Di dunia ini ia bergembira, di dunia sana ia bergembira, pelaku kebajikan bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita karena melihat perbuatannya sendiri yang bersih”Dhammapada Yamaka-Vagga, syair 16 DOWNLOAD AUDIO Semua makhluk mendambakan, menginginkan, mengidam-idamkan kebahagiaan terutama manusia. Manusia sangat mendambakan kebahagiaan itu sendiri, tetapi perlu diketahui setiap manusia mempunyai cara dan tujuan yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain untuk memperoleh kebahagiaan. Ada beberapa manusia mencari kebahagiaan menggunakan cara yang benar dan juga sebagian mencari kebahagiaan menggunakan cara yang kurang tepat. Hal pertama yang harus dilakukan, ketika seseorang menginginkan kebahagiaan dengan cara menghindari perbuatan buruk, pernyataan ini dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Dhammapada 183, yaitu Sabbap?passa akara?a? artinya “tidak melakukan segala bentuk kejahatan”. Dengan upaya untuk tidak melakukan segala bentuk perbuatan buruk maka secara otomatis terkondisi untuk melakukan perbuatan yang baik, karena hanya perbuatan baik yang mampu menjadi pengondisi buah tidak melakukan kejahatan dijelasakan dalam A?guttara Nik?ya II,15 “tinggalkan kejahatan, O para bhikkhu. Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya manusia tidak dapat meninggalkan kejahatan, Aku tidak akan menganjurkan kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka Kukatakan, tinggalkanlah kejahatan”. Kejahatan yang dimaksud di sini adalah kejahatan melalui tiga pintu perbuatan yaitu jasmani, ucapan, dan pikiran, karena jika ketiga hal ini dikembangkan, maka penderitaan selalu mengikuti kemanapun kita pergi seperti halnya syair di dalam kitab suci Dhammapada Yamaka-Vagga syair pertama dikatakan “penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya”. Makna dari kutipan ini ialah penderitaan dianalogikan roda pedati mengikuti langkah-langkah kaki lembu yang menariknya karena lembu yang menariknya menderita seperti halnya perbuatan buruk akan mengondisikan buah penderitaan bagi si pelaku Sutta dalam Majjhima Nik?ya menyatakan jika kamma pembunuhan secara langsung menentukan kelahiran kembali, maka hal itu akan menghasilkan kelahiran kembali dalam salah satu alam sengsara. Tetapi jika kamma baik mengantarkan menuju kelahiran kembali di alam manusia dan karena kelahiran kembali sebagai manusia selalu diakibatkan oleh kamma baik, kamma pembunuhan akan bekerja dengan cara yang berlawanan dengan kamma penghasil kelahiran kembali dengan menyebabkan berbagai kemalangan yang bahkan berujung pada kematian prematur. Prinsip yang sama berlaku pada kasus perbuatan buruk yang lain, di mana jika kamma buruk menjadi matang dalam kehidupan sebagai manusia dalam tiap-tiap kasus kamma buruk melawan kamma baik yang bertanggung jawab atas kelahiran kembali sebagai manusia dengan menimbulkan jenis kemalangan tertentu sesuai kualitas yang lebih dominan. Untuk memperoleh kebahagiaan setiap makhluk terutama manusia harus berusaha setiap saat untuk mengembangkan perilaku baik di setiap kehidupannya, karena hanya dengan menghindari keburukanlah kebahagiaan dapat diperoleh. Selain menghindari segala bentuk kejahatan untuk memperoleh kebahagiaan, tentunya seseorang berusaha mengembangkan kebajikan seperti halnya yang dituangkan dalam syair Dhammapada 183 yaitu, Kusalassupasampada yang mempunyai arti “mengembangkan kebajikan” selain itu dalam A?guttara Nik?ya II,I,5 menyatakan bahwa “Kembangkanlah kebaikan, O para bhikkhu, manusia dapat mengembangkan kebaikan. Seandainya saja manusia tidak mungkin mengembangkan kebaikan, Aku tidak menganjurkan kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka Kukatakan kembangkanlah kebaikan”. Dari pernyataan ini dapat dilihat bahwa untuk memperoleh kebahagiaan tidak ada cara lain selain mengembangkan kebaikan. Dhammapada Yamaka-Vagga syair ke dua menyatakan “kebahagiaan akan mengikuti bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya”. Mengenai kebahagiaan dapat disimak cerita tentang Gopika yang kemudian terlahir sebagai salah satu putra Dewa Sakka yang bernama Gopaka yang ada di dalam Sakkapañha Sutta D?gha Nik?ya, dalam cerita ini perbuatan yang dikembangkan adalah perbuatan baik yaitu dengan tekun melatih moralitas s?la dan selalu memberi d?na dengan penuh keyakinan. Untuk memperoleh kebahagiaan dua hal ini harus dipenuhi yaitu, tidak melakukan segala bentuk kejahatan dan selalu mengembangkan segala kebaikan, maka kebahagiaan akan selalu mengikuti dan menyertai di setiap saat. A?guttara Nik?ya III,150 menjelaskan “Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia menjadi milik mereka. Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia menjadi milik mereka. Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka”. Selain itu, hendaknya seseorang memperhatikan dua jenis kebahagiaan yang harus dikejar dan yang harus dihindari yaitu, dalam mengejar kebahagiaan jika faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka kebahagiaan demikian harus dihindari. Dan dalam mengejar kebahagiaan faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka kebahagiaan demikian harus dikejar. Serta Kebahagiaan yang disertai awal pikiran dan kelangsungan pikiran dan yang tidak disertai awal pikiran dan kelangsungan pikiran, yang ke dua adalah lebih luhur. Dua jenis kebahagiaan yang harus dihindari dan harus dikejar juga berlaku pada pikiran, ucapan, dan badan jasmani. Semisalnya perbuatan jasmani Ketika melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka perbuatan jasmani demikian harus dihindari. Ketika dengan melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka perbuatan jasmani demikian harus memperoleh kebahagiaan, tentunya tergantung diri sendiri karena diri sendirilah sebagai tuan rumah. Analoginya, jika ada tamu maka yang menentukan tamu itu dapat masuk ke rumah adalah tuan rumah. Jika tuan rumah tidak menghendaki tamu itu untuk masuk, maka sampai kapanpun tamu itu tidak akan pernah masuk. Tetapi jika tamu itu dikehendaki tuan rumah untuk masuk, maka tamu itu akan dapat masuk. Demikian juga halnya dengan kebahagiaan, jika kebahagiaan itu diupayakan, maka kebahagiaan itu akan didapatkan. Tetapi jika kebahagiaan itu tidak diupayakan, maka sampai kapan-pun orang tersebut tidak akan memperoleh kebahagiaan karena kebahagiaan tidak datang secara gratis, melainkan datang dengan tindakan nyata, yaitu dengan mengembangkan kebajikan. Jika ada kebahagiaan yang lebih besar, mengapa tidak mencoba untuk mengorbankan kebahagiaan yang kecil. Cira? Ti??antu Saddhammo Semoga Dhamma sejati dapat bertahan lama Referensi?Vijanao, Kitab Suci Dhammapada. Singkawang selatan Bahussuta Society.?Walshe, Maurice. 2009. Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha D?gha Nik?ya. Tanpa kota Dhammacitta.?Ñanamoli dan Bodhi. 2013. Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha Majjhima Nik?ya. Jakarta Barat Dhammacitta Press.?Ñanamoli dan Bodhi. 2003. Petikan A?guttara Nik?ya. Klaten Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
b s. Dhammapada ( bahasa Pali) atau Dharmapada ( bahasa Sanskerta) merupakan salah satu kitab suci Agama Buddha dari bagian Khuddaka Nikāya, yang merupakan salah satu bagian dari Sutta Pitaka. Dhammapada terdiri dari 26 vagga (bab) atau 423 bait . Hidup ini sangat singkat, usia kita semakin bertambah dan kita pun semakin tua kekuatan menjadi lemah dan kita semakin dekat dengan kematian. Cobalah untuk merenungkan tentang hal ini sedikit. Mulailah untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sampai pada hari ini, sudah tidak terhitung lamanya kita berada di alam sa?sara ini untuk mencari kebahagiaan, tetapi kenyataannya lebih banyak penderitaan yang kita dapatkan. Sekarang ini adalah kesempatan yang baik, di mana kita jadi manusia dan bertemu dengan Dhamma ajaran Sang Buddha. Kesempatan ini adalah hal yang sulit untuk diperoleh tapi walaupun sulit kita sudah mendapatkannya, oleh sebab itu berjuanglah sungguh-sungguh selama kesempatan masih ada. Setidaknya kita berusaha untuk tidak jatuh ke empat alam menyedihkan. Bergegaslah untuk berbuat kebajikan, karena bagaimanapun hidup di dunia ini tidak kekal. Hidup ini tidak hanya untuk mencari harta, kedudukan, perolehan, dan ketenaran. Meski memiliki kekayaan sebanyak apa pun, pada akhirnya tidak ada satu pun yang bisa dibawa pergi. Hanya kamma baik dan kamma buruklah yang akan setia menjadi pengikut menuju kehidupan berikutnya. Kalau kita memiliki tabungan kamma baik yang banyak, maka akan dapat mengantarkan kita ke alam yang bahagia dan jika tidak, maka kita akan jatuh ke alam menderita. Masihkah kita akan menunda waktu untuk berbuat kebajikan? Kita tidak tahu masih berapa lama sisa kehidupan yang kita miliki di dunia ini, dan kita juga tidak tahu sudah berapa banyak saldo kebajikan yang kita miliki. Oleh karena itu jangan menunda-nunda waktu, lakukanlah perbuatan baik selama kita bisa. Berbuat baik bisa dengan berdana, menjalankan moralitas, dan mengembangkan batin. Ada sebuah perumpamaan tentang gagak yang malang. Kisah ini di ambil dari isi Sona-Jataka No. 529. Suatu ketika seekor burung gagak bodoh melihat seekor bangkai gajah yang besar yang mengapung dan terbawa arus di sungai Gangga. Diliputi oleh keserakahan, dia berpikir, “itu adalah gudang makanan yang luar biasa, aku akan tinggal di sana siang dan malam dan menikmati kebahagiaan hidup.” Maka, hanya dia yang terbang ke sana dan berdiam di bangkai tersebut. Siang dan malam dia hanya menikmati kebahagiaan hidupnya dengan makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Dia bagaikan mabuk kesenangan, sehingga walaupun di sepanjang pinggir sungai terdapat banyak desa-desa makmur dengan vihara-viharanya yang indah dan megah dilewatinya, dia tidak menghiraukannya sama sekali, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalannya waktu, bangkai tersebut semakin habis dan dia pun semakin tua serta sulit terbang. Akhirnya, ketika bangkai tersebut sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana, bangkai tersebut tidak dapat lagi menopangnya. Dia berusaha terbang. Dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak olehnya. Di sana, di tengah lautan luas dia terjatuh dan langsung dimangsa oleh para penghuni lautan ganas. Makna dari kisah gagak yang malang ini adalah sebagian manusia yang bodoh dan malas bagaikan si burung gagak bodoh. Mereka terlahir sebagai manusia dengan keadaan yang baik dan berkecukupan bagaikan si gagak yang mendapatkan seekor bangkai gajah yang besar. Mereka siang dan malam selalu berusaha untuk memuaskan nafsu indranya tanpa memedulikan bahwa usianya semakin tua dan semakin dekat dengan kematian. Hal ini bagaikan si gagak yang siang dan malam hanya makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Mereka tidak menghiraukan keberadaan Buddha Sasana dan juga sama sekali tidak terpikir oleh mereka untuk melakukan kebajikan. Hal ini bagaikan si gagak yang tidak menghiraukan desa-desa makmur dengan vihara-vihara yang indah dan megah, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalan-nya waktu, berkah kamma baiknya mereka semakin berkurang, usianya semakin tua, dan kemampuannya dalam berusaha juga semakin berkurang. Hal ini bagaikan si gagak yang mulai kehabisan bangkai, usianya semakin tua, dan sulit terbang. Berada di akhir kehidupan, jauh dari kebajikan, dan kamma baik juga tidak kuat lagi menyokong hidupnya. Hal ini bagaikan si gagak yang sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana dan bangkai tempatnya berdiam juga tidak dapat lagi menopangnya. Pada umumnya, ketika mereka telah tua, di saat menjelang kematian, mereka baru sadar dan menyesal, mereka berusaha bertahan hidup dan melakukan kebajikan, tetapi semuanya telah terlambat. Hal ini bagaikan si gagak yang berusaha terbang dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak. Mereka meninggal dalam kegelisahan dan kebingungan, buah kamma buruk menyerbunya, dan mereka terjatuh ke alam menderita yang sangat-sangat menderita. Hal ini bagaikan si gagak terjatuh di tengah lautan luas dan langsung dimangsa oleh penghuni lautan yang ganas. Demikianlah kebiasaan sebagian besar manusia, kita sering lupa bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara. Ketika masih muda dan kuat menyia-nyiakan kesempatan untuk berlatih dalam kebaikan, ketika tua dan lemah baru ingat betapa pentingnya berlatih, betapa pentingnya kebajikan tapi sayang mereka sudah terlalu tua, mau datang ke vihara sudah tidak bisa berjalan, mau berbuat baik sudah terlalu lemah. Akhirnya hanya bisa menjalani sisa hidup dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Oleh karena itu Buddha menyampaikan dalam syair Dhammapada “bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan, barang siapa lamban berbuat bajik, maka pikirannya akan senang dalam kejahatan”. Katakata yang kita gunakan untuk berbicara tentang Dhamma, termasuk kata "Buddha" ini, dikelilingi dan dibatasi oleh budaya Indo-Arya di mana Siddhattha Gotama muda tumbuh. Syair biasanya cenderung bersifat kuno; ini dapat didukung dalam sejumlah kasus dengan perbandingan bacaan syair dan prosa oleh penulis yang sama bahkan pada masa Dhammapada Syair Kebahagiaan Sukha Vagga01/197 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa membenci, di antara orang-orang yang membenci. Di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa membenci. 02/198 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa penyakit, di antara orang-orang yang berpenyakit. Di antara orang-orang berpenyakit, kita hidup tanpa penyakit. 03/199 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, di antara orang-orang yang serakah. Di antara orang-orang yang serakah, kita hidup tanpa keserakahan. Baca kisah perdamaian para kerabat Sang Buddha yang tengah berseteru . 04/200 Sungguh bahagia bila kita hidup tanpa keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kita akan hidup bagaikan dewa brahma yang tinggal di alam cahaya. Baca kisah Mara menghasut para penduduk. 05/201 Kemenangan menimbulkan permusuhan, yang kalah hidup di dalam kesedihan. Kehidupan damai akan diperoleh dengan meninggalkan kemenangan dan kekalahan. Baca kisah kekalahan raja Pasenadi. 06/202 Tiada api yang menyamai nafsu, tiada kejahatan yang menyamai kebencian, tiada derita yang menyamai Lima Kelompok Kehidupan, tiada kebahagiaan yang menyamai Nibbana. Baca kisah sepasang pengantin baru. 07/203 Kelaparan adalah hal yang paling menyakitkan, Kelompok Kehidupan adalah sumber penyakit terparah, orang bijaksana yang mengetahui hal itu sebagaimana adanya, akan mencapai nibbana, kebahagiaan tertinggi. Baca kisah seorang upasaka. 09/205 Dengan merasakan penyepian dan kedamaian nibbana, seseorang yang meminum kenikmatan intisari Dhamma, akan bebas dari ketakutan dan kejahatan. Baca kisah biksu Tissa. 10/206 Adalah sangat baik bila bertemu dengan orang suci, hidup bersama mereka akan selalu menyenangkan, tidak bertemu dengan orang bodoh, juga adalah hal yang menyenangkan. 11/207 Ia yang berjalan bersama dengan orang-orang bodoh, akan berduka dalam waktu yang lama, hidup bersama orang-orang bodoh akan menyakitkan, bagaikan hidup bersama musuh, hidup bersama orang bijaksana akan membahagiakan, bagaikan hidup bersama sanak saudara. 12/208 Oleh karena itu, seseorang harus mengikuti orang-orang suci yang tegas, pandai, terpelajar, tekun, dan patuh, ikutilah orang yang suci dan bijaksana seperti itu, bagaikan bulan mengikuti peredaran bintang-bintang. Baca kisah Sakka, raja para dewa alam Trayastrimsa.

Kamis 01 November 2012. Dhammapada Bab I Yamaka Vagga - Syair Kembar Posted by . hinstinct

Setiap manusia memiliki potensi untuk memperoleh apa yang diharapkan dalam hidupnya, baik secara duniawi maupun spiritual. Potensi secara duniawi hanya mengarah kepada harta benda, kekayaan, kehormatan, kedudukan, ketenaran, nama baik, dan masih banyak kebahagiaan yang bersifat duniawi lain-nya, tetapi itu semua sifatnya sementara, bisa mengalami perubahan kapan saja anicc?. Sedangkan potensi spiritual mengarah kepada tujuan hidup yang membawa pada kebahagiaan di atas duniawi yaitu melampaui penderitaan dan merealisasikan kebahagiaan tertinggi Nibb?na.Kedua potensi itu apabila dikembangkan secara terus-menerus dalam kehidupan ini juga akan membawa kepada kebahagiaan duniawi dan batin. Untuk mewujudkan potensi-potensi tersebut tidaklah mudah, semuanya membutuhkan tekad yang kuat adhi???na, perjuangan utthanasampada, usaha, pe-ngorbanan, semangat viriya. Untuk mewujudkan potensi itu menjadi kenyataan membutuhkan pedoman yaitu Dhamma yang merupakan ajaran kebenaran yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Dhamma itu sendiri adalah ajaran untuk kebahagiaan dan pembebasan dari penderitaan. Dalam kehidupan ini Sang Buddha mengetahui bahwa tidak semua orang bisa mencapai kebebasan, maka Sang Buddha juga mengajarkan Dhamma untuk kebahagiaan di dunia, karena manusia menginginkan kebahagiaan dan keselamatan. Oleh karena itu dalam A?guttara Nik?ya, Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada An?thapi??ika mengenai empat jenis kebahagiaan yakniKebahagiaan yang pertama Atthisukha adalah kebahagiaan karena memiliki kekayaan materi. Semua orang mempunyai harapan dan cita-cita dalam menginginkan kekayaan, pada saat kita mendapatkan kekayaan itulah kita akan merasa bahagia. Karena dengan kita mempunyai kekayaan maka kita bebas dari rasa takut, khawatir, dan cemas karena semua kebutuhan bisa terpenuhi. Dalam mengumpulkan kekayaan hendaknya melalui jalan yang benar bukan dari hasil mencuri, merampok, dan menipu, karena kekayaan yang diperoleh dengan cara yang baik akan memperoleh kebahagiaan. Sebaliknya, kekayaan yang diperoleh dari hasil yang tidak baik akan membuat kita hidup tidak nyaman dan yang kedua adalah Bhogasukha yang merupakan ke-bahagiaan karena bisa menikmati kekayaan materi. Kalau kita mampu menikmati kekayaan yang diperoleh dengan cara yang baik, maka saat itu kita akan memperoleh kebahagiaan. Tetapi apabila kekayaan kita miliki namun tidak dapat kita nikmati, maka saat itu kita tidak bisa memperoleh yang ketiga, Ana?asukha adalah kebahagiaan karena tidak memiliki hutang. Apabila kita hidup tanpa hutang kepada siapapun, dalam hal apapun, baik itu kecil maupun besar, maka saat itu kita merasakan kebahagiaan, karena hidup tanpa hutang akan memiliki ketenangan dan bebas dari yang keempat, Anavajjasukha adalah kebahagiaan karena tanpa cela. Pada saat kita hidup dan berinteraksi di dalam masyarakat di mana terdapat norma-norma dan aturan-aturan yang menjadi pedoman hidup, tetapi apabila kita tidak berperilaku sesuai dengan norma-norma tersebut, maka pada saat itu kita akan mendapatkan celaan. Kehidupan tanpa cela akan dapat kita peroleh bila kita mampu hidup selaras dengan norma dan aturan yang berlaku di dalam masyarakat. Kebahagiaan karena mampu menjalani hidup tanpa cela adalah kebahagiaan yang tertinggi. Inilah empat jenis kebahagiaan yang dapat dicapai oleh umat Buddha yang masih ingin menikmati kesenangan indera, bergantung pada waktu dan kesempatan, tetapi kebahagiaan ini sifatnya sementara dan faktanya tidak bisa menjamin kebahagiaan sejati. Oleh karena itu Sang Buddha tidak hanya mengajarkan kebahagiaan duniawi saja, tetapi Sang Buddha juga mengajarkan tentang kebahagiaan sejati yang membawa pada kedamaian dan ketenangan batin secara terus-menerus. Ketenangan dan kedamaian batin akan melampaui kebahagiaan duniawi karena ketenangan batin akan memunculkan ke-bijaksanaan paññ? untuk melihat kehidupan yang sifatnya berubah-ubah anicc? dan tidak memuaskan. Hidup yang tidak memuaskan adalah pen-deritaan. Dengan mengetahui bahwa hidup adalah penuh derita, maka ada keinginan untuk bebas dari penderitaan. Penderitaan akan dapat kita singkirkan apabila kekotoran-kekotoran batin kilesa dapat kita hancurkan secara total seperti halnya kebencian, keserakahan, dan kegelapan batin yang merupakan akar dari segala penderitaan. Sang Buddha telah menunjukkan jalan menuju kebebasan sejati yaitu jalan mulia berunsur delapan ariya a??ha?gika magga yang terdiri dari pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar, yang kemudian disingkat menjadi s?la, sam?dhi, dan paññ?. S?la merupakan latihan moralitas bagi umat Buddha yaitu terdiri dari Pañcas?la Buddhis, Atthas?la, Dasas?la, dan P??imokkhas?la. Siapa saja yang melaksanakan s?la dengan baik akan memiliki pengendalian di dalam dirinya. Selain itu juga ia akan memiliki hiri rasa malu untuk melakukan kejahatan dan ottappa rasa takut akan akibat perbuatan jahat yang dilakukan, karena hiri dan ottappa adalah penunjang dalam pelaksanaan s?la dan menjadi pelindung dunia. Sedangkan sam?dhi merupakan cara melihat ke dalam diri kita sendiri melalui bermeditasi. Selain kita menerapkan atau mempraktikkan s?la atau moralitas dalam kehidupan sehari-hari, kita juga perlu memperhatikan pikiran kita karena selama kita masih memiliki pikiran yang buruk maka kehidupan kita tidak akan pernah terasa nyaman. Penerapan meditasi dalam kehidupan sehari-hari adalah sangatlah baik untuk mengolah pikiran kita terbebas dari pikiran-pikiran yang tidak baik seperti benci, serakah, dan batin yang gelap. Dengan praktik sam?dhi, maka kebijaksanaan paññ? dapat kita peroleh. Dengan memiliki kebijaksanaan, maka kita dapat melihat hidup dan kehidupan yang diliputi oleh ketidak-kekalan, penderitaan, dan tanpa inti yang kekal. Tanpa kebijaksanaan kita tidak akan dapat melihat sifat dari kehidupan tersebut. Apabila kita sudah menjalani dan mempraktikkan jalan mulia berunsur delapan dan mampu melihat dan memahami tiga corak kehidupan dengan jelas, maka tugas kita sebagai manusia sudah berakhir dalam kehidupan ini juga, karena selama Dhamma masih bisa dipraktikkan, selama itu pula kebebasan dapat kita realisasikan. Inilah jalan yang telah sempurna diselami oleh Sang Buddha, yang dapat membuka mata batin, yang menimbulkan pengetahuan yang membawa ketenangan, pengetahuan batin yang luar biasa, kesadaran yang agung, serta pencapaian kebebasan Nibb?na.
Sabtu 29 Februari 2020. Dhammadesana oleh: YM. Bhikkhu Sri Paññavaro Mahāthera. Tema: Mempraktikan Buddha Dhamma Demi Kebahagiaan dan Kesejahteraan Semua Makhluk. Penulis & Editor: Lij Lij. Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa. (3x) "Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā. Nibbānaṁ paramaṁ vadanti Buddhā. Na hi pabbajito
BERSYUKUR DAN BERTERIMA KASIH Ä€rogyaparamā lābhā, santuá¹­á¹­há¿paramaṁ dhanaṁ; Vissāsaparamā ñāti, nibbānaṁ paramaṁ sukhaṁ.Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Nibbāna adalah kebahagiaan yang tertinggi.Dhammapada 204 DOWNLOAD AUDIO Kitab Suci Dhammapada merupakan salah satu kitab dalam Agama Buddha yang terdapat dalam Khuddaka Nik?ya. Memuat khotbah-khotbah Sang Buddha yang disusun dalam bentuk syair dengan jumlah 423 syair. Pada kesempatan kali ini akan dibahas salah satu syair yang terdapat dalam Sukha Vagga, yaitu syair 204. Syair tersebut dibabarkan oleh Sang Buddha kepada Raja Pasenadi dari Kosala setelah sebelumnya Raja Pasenadi mengikuti nasihat dari Sang Buddha untuk mengurangi makan. Syair tersebut membahas tentang sebab-sebab kebahagiaan, antara lain kesehatan, kepuasan, kepercayaan, dan Nibb?na. Tiga hal yang pertama dapat diperoleh, dijaga, dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai hal yang patut disyukuri. Tentu semua orang ingin agar hidupnya sehat, mudah merasa puas, serta mendapat kepercayaan dari kerabat dekat maupun masyarakat. Bersyukur dan berterima kasihDalam Kitab Suci A?guttara Nik?ya Buddha menjelaskan tentang tiga jenis manusia yang jarang atau langka di dunia ini. 1 Pertama, seorang Tath?gata, seorang Arahat, yang tercerahkan sempurna. 2 Kedua, seorang yang mengajarkan Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tath?gata. 3 Ketiga, seorang yang bersyukur dan berterima kasih. Ketiga jenis orang ini adalah jarang di dunia ini. Sering kali seseorang terlalu mendambakan hal-hal di luar diri yang belum diperoleh. Ketika cita-cita dan harapannya tersebut tidak tercapai lalu merasa sedih dan kecewa. Padahal, sebenarnya ia sudah memiliki hal-hal yang patut untuk disyukuri. Ia lupa untuk bersyukur dan berterima kasih atas apa yang sudah dimiliki pada saat ini. Bersyukur pada awalnya memang tidak mudah, namun hal tersebut dapat dicapai dari latihan. Kesehatan adalah keuntungan yang paling besarR?pa atau tubuh jasmani merupakan sarang penyakit dan suatu saat pasti akan diserang penyakit. Tetapi, bukan berarti seseorang kemudian lantas melalaikan kesehatan dirinya sendiri. Kesehatan adalah hal yang sangat berharga, karena dapat menunjang aktivitas seseorang. Hal inilah yang kiranya penting untuk dipahami dengan benar. Bahkan, di dinding beberapa rumah sakit di Sri Lanka, penggalan syair ?rogyaparam? l?bh?’ ditampilkan dalam huruf besar untuk mengingatkan besarnya manfaat dari kesehatan. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berhargaSetiap orang tidak terlepas dari keinginan, baik keinginan yang sederhana, sampai keinginan yang membuat batin tersiksa. Bila tidak disadari, keinginan-keinginan rendah dapat mengantarkan seseorang pada semakin berkembangnya nafsu dan keserakahan. Ketika seseorang bisa melenyapkan keserakahan dan kekikiran, maka kebahagiaan yang didapat dari kepuasan akan menjadi kekayaan yang adalah saudara yang paling baikMemiliki saudara dekat yang mengerti dan melindungi adalah dambaan banyak orang. Tatkala seseorang dalam kesulitan, saudara dekat siap mengulurkan tangan. Kepercayaan dari lingkungan dan masyarakat, bekerja seperti halnya saudara dekat. Menolong baik ketika diminta maupun ketika tidak diminta. Bahkan, lebih jauh lagi, dapat mengantarkan seseorang pada kesuksesan dan mudah bersyukur dimulai dari hal sederhanaKetika sedih dan kecewa muncul lantaran tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ingatlah pada tiga hal ini kesehatan, kepuasan, dan kepercayaan. Ketiga hal ini telah dimiliki, namun kadang tidak disyukuri. Penyebabnya karena pikiran yang tidak terkendali. Oleh karena itu, berusaha memunculkan rasa syukur dan berterima kasih dalam kehidupan sehari-hari amatlah penting. Dimulai dari bersyukur dan berterima kasih pada hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Ketika hal ini dilatih secara terus-menerus tanpa kenal lelah, maka perlahan akan muncul dan berkembang menjadi sifat. Lebih jauh lagi, sifat baik ini akan berkembang menjadi karakter. Tentu setiap orang mengharapkan dirinya memiliki karakter yang baik. Salah satu contoh dari seseorang yang berkarakter baik adalah mereka yang dapat mensyukuri semua makhluk hidup 2011. Kitab Suci Dhammapada. Terjemahan oleh R?javar?c?riya. 2013. Singkawang Selatan Bahussuta 2015. A?guttara Nik?ya Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha Jilid 1. Jakarta DhammaCitta Press.
. 399 13 247 32 368 234 200 170

syair dhammapada tentang kebahagiaan